I love u, Pak.

menangis1Image source : disini

1993- 22.00 WIB

Suara Berisik malam itu membangunkan seorang bocah berumur 10 tahun  terbangun dari tidur. Ia segera beranjak keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Di ruang tamu sudah berdiri wanita paruh baya yang merupakan adik dari bapaknya, sama-sama keluar dari kamar karena terbangun mendengar suara bising itu. Ditengoknya Kamar Orang tuanya yang sunyi,ibu nya sedang menginap di rumah Nenek, sedangkan Bapaknya sedang keluar.

Suara itu kembali terdengar dari pintu samping. Bergegas mereka berdua melangkah ke bagian samping rumah. Dan disana tampak Bapaknya sedang berjalan mendorong sepeda  miliknya.

“Pak,. sepeda saya mau di bawa kemana??” Bocah itu panik melihat sepeda kesayangannya akan di bawa pergi.

“Mau dijual,” Bapak menjawab singkat sambil terus mendorong sepeda itu keluar rumah.

“Tapi nanti saya sekolah naik apa?” anak itu berkata dengan suara bergetar hampir menangis, Menggenggam erat tangan Bibinya dan berharap ibunya ada disitu agar mau mencegah Bapaknya membawa sepeda itu pergi. Sementara sang bibi hanya terdiam melihat kejadian itu, tak berani bersuara sedikitpun.

“Sudah, nanti beli lagi. Tidur sana!”

Dan tangis anak itu lepas saat melihat Bapaknya pergi dengan temannya, menaiki sebuah mobil pick-up menjauh mengangkut sepedanya pergi jauh…

Masih di malam yang sama- 02.00

Berselang beberapa jam setelah itu, sang anak baru bisa tertidur sehabis menangis memikirkan sepeda kesayangannya sambil memanggil-manggil sang ibu , berharap ibunya ada untuk menenangkan hatinya. Ia selalu mengendarai sepeda itu , baik saat ke sekolah ataupun bermain dengan teman-temannya. Untuk anak seumuran dia, melihat benda kesayangan di bawa pergi adalah hal yang meremuk redamkan hati..

Ketika Ia mulai bisa terpejam tiba tiba pintu rumah di ketuk berulang-ulang, serta merta ia bangun dan melangkah ke ruang depan. Mengintip lewat jendela dan melihat siapa yang ada di depan pintu.

Bapaknya berdiri di depan. Segera dibukakannya pintu karena takut Bapaknya marah jika lama menunggu. Saat pintu terbuka Bapak langsung masuk dengan tubuh sempoyongan. Anak itu mengunci pintu dan mengikuti Bapaknya masuk ke dalam, ia begitu terkejut ketika tiba tiba Bapaknya jatuh terduduk dan muntah-muntah di ruang tengah.

“Bapak kenapa??” ia ketakutan ,

“Gelar kasur di tengah rumah..!!” perintah Sang Bapak , dan anak itu segera membangunkan bibi untuk membantunya, sebab ia tak kuat mengangkat kasur itu sendirian. Sementara di ruang tengah Sang Bapak kembali memuntahkan cairan  beraroma busuk. Tak lama kemudian, pria paruh baya itu rebah tak sadarkan diri di atas kasur.

Ia mengambil baskom berisi air dan handuk kecil, direndamnya handuk itu ke dalam air dan diperas, kemudian di letakkan di  kening Bapak yang tertidur. Ia beranjak ke kamar mandi, dan kembali masuk dengan membawa sebuah ember berisi air dan sehelai kain pel. Menggunakan kain pel itu ia membersihkan lantai yang basah dengan muntahan.

Dan akhirnya  ia habiskan malam itu dengan duduk di sebelah Bapak yang tertidur, terkantuk-kantuk mengganti kompresan di kening Bapaknya sambil sesekali menangis pelan memikirkan sepeda kesayangannya yang di jual sang Bapak untuk minum-minum..

 ———————————————————————-

2008

“pak, Motor Bapak sudah berapa bulan nunggak??” Pemuda itu bertanya pada Bapak yang sedang duduk membaca Koran.

“Yang merah nunggak 6 bulan, yang hitam 7 bulan.” Jawab Bapak dengan mata masih menatap Koran.

Pemuda itu berfikir beberapa saat setelah kemudian kembali berbicara , “Pak, saya mau pinjam duit ke Bank, Menggadaikan SK PNS saya. Nanti duitnya untuk melunasi motor bapak yang merah, sisanya untuk bayar tunggakan motor yang hitam.”

Sang Bapak tak menjawab, entah terlalu serius membaca atau mencoba berpura pura tak mendengarkan. Pemuda itu menunggu Bapaknya berkata sesuatu, ia takut Bapaknya tersinggung dan kemudian marah dengan niatnya itu.

Karena Bapaknya tak juga menjawab, ia akhirnya memberanikan diri untuk kembali berbicara,

“Bapak jangan tersinggung, saya hanya mau membantu saja.

Bapak juga jangan khawatirkan gaji saya, setelah dipotong hutang Bank nanti gaji saya masih ada beberapa ratus ribu kok,Lagian itu juga Cuma dipotong selama Tiga Tahun..”

Bapaknya tetap terdiam, kendati bola matanya sama sekali tak tampak seperti orang yang sedang membaca sesuatu. Hingga beberapa saat kemudian Bapaknya masih saja tak menjawab, ia memutuskan menjauh. Pria itu pergi sambil menyeka air mata yang tiba-tiba menetes, meninggalkan Sang Bapak yang tetap diam tak ber-ucap satu kata pun.

 “Supaya bapak tidak pernah merasakan sedihnya kehilangan benda kesayangan….”

Advertisements

11 thoughts on “I love u, Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s